Yuk kenalan dengan Bakteri Treponema pallidum

Kalo penyakitnya yang di timbulkan oleh bakteri ini pasti sobat cari penyakit sudah tahu semua nih.. Yup.. Penyakit Kelamin Sipilis atau Rajasinga. Waaww.. bahaya banget ya sobat.. yuk kenal lebih dalem lagi..

Yuk kenalan dengan Bakteri Treponema pallidum


Treponema pallidum adalah bakteri spiroket gram-negatif yang menyebabkan penyakit sifilis, suatu penyakit menular seksual yang ditandai dengan tahap-tahap klinis yang berbeda. Berikut ini adalah penjelasan lebih rinci tentang Treponema pallidum :

Nama Ilmiah :

Treponema pallidum


Habitat :

Treponema pallidum, bakteri penyebab sifilis, memiliki habitat yang terbatas dan bergantung pada inang manusia. Bakteri ini tidak dapat hidup atau berkembang biak di luar tubuh manusia atau inang mamalia lainnya. Treponema pallidum sangat sensitif terhadap kondisi lingkungan yang eksternal, seperti suhu, kelembaban, dan paparan sinar matahari.

Dalam tubuh manusia, Treponema pallidum dapat ditemukan di berbagai jaringan dan organ, terutama pada tempat-tempat yang terinfeksi seperti lesi kulit atau mukosa pada tahap awal sifilis. Selama infeksi sifilis primer dan sekunder, bakteri ini dapat ditemukan dalam jumlah besar dalam chancre (lesi terbuka) dan ruam kulit yang terbentuk.

Pada tahap laten atau tersier sifilis, Treponema pallidum menyebar ke berbagai organ tubuh, termasuk sistem saraf pusat, jantung, pembuluh darah, dan tulang. Bakteri ini dapat hidup dalam jaringan tubuh yang terinfeksi dan menimbulkan kerusakan yang serius jika tidak diobati.


Klasifikasi :

- Kerajaan: Bacteria (Bakteri)

- Filum: Spirochaetes

- Kelas: Spirochaetes

- Ordo: Spirochaetales

- Famili: Spirochaetaceae

- Genus: Treponema

- Spesies: Treponema pallidum


Morfologi :

1. Bentuk: Treponema pallidum memiliki bentuk spiral panjang dan tipis, yang memberikan tampilan seperti benang spiral atau heliks. Ukurannya sangat kecil, dengan diameter sekitar 0,1 mikrometer (µm) dan panjang sekitar 6-20 µm.

2. Ujung runcing: Bakteri ini memiliki ujung runcing pada kedua ujungnya, yang membantu dalam penetrasi dan pergerakan melalui jaringan dan cairan tubuh.

3. Flagela periplasmik: Treponema pallidum memiliki flagela periplasmik internal yang terletak di antara membran dalam dan luar. Flagela ini membantu dalam pergerakan spiral bakteri dan memberikan sifat motil yang khas bagi spiroket.

4. Tidak berwarna: Treponema pallidum tidak dapat diwarnai dengan metode pewarnaan rutin seperti metode Gram karena kekurangan dinding sel peptidoglikan yang mencirikan bakteri gram-negatif lainnya.

5. Sulit dilihat: Bakteri ini memiliki ukuran yang sangat kecil dan struktur spiral yang tipis, sehingga sulit untuk dilihat dengan menggunakan mikroskop cahaya biasa. Oleh karena itu, pengamatan Treponema pallidum biasanya memerlukan mikroskop yang lebih kuat seperti mikroskop gelap-gelap atau mikroskop fase kontras.


Siklus Hidup :

1. Penularan: Treponema pallidum ditularkan melalui kontak langsung dengan luka terbuka yang terinfeksi selama aktivitas seksual, baik vaginal, anal, maupun oral. Penularan juga dapat terjadi melalui transfusi darah yang terinfeksi atau dari ibu yang terinfeksi kepada janin selama kehamilan (sifilis kongenital).

2. Invasi dan Perkembangan Awal: Setelah memasuki tubuh manusia, Treponema pallidum menembus jaringan di sekitar lokasi masuknya infeksi. Bakteri ini dapat menyebabkan pembentukan chancre, yaitu lesi terbuka di tempat masuknya infeksi. Selama tahap ini, Treponema pallidum berkembang biak secara aktif.

3. Penyebaran melalui Aliran Darah: Jika tidak diobati, Treponema pallidum dapat menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Bakteri ini dapat menginfeksi berbagai organ dan jaringan tubuh, termasuk kulit, sistem saraf, jantung, tulang, dan organ lainnya.

4. Tahap Laten: Setelah fase penyebaran awal, Treponema pallidum dapat memasuki tahap laten, di mana bakteri masih ada dalam tubuh tetapi tidak menunjukkan gejala yang nyata. Tahap laten dapat berlangsung selama bertahun-tahun.

5. Tahap Tersier: Sekitar 30% penderita sifilis laten akan mengalami tahap tersier jika tidak diobati. Pada tahap ini, bakteri dapat menyebabkan kerusakan serius pada organ tubuh, termasuk jantung, otak, pembuluh darah, kulit, dan tulang. Komplikasi yang mungkin terjadi pada tahap ini meliputi neurosifilis, kardiovaskular sifilis, sifilis gummatous, dan sifilis kongenital pada bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi.


Gejala Infeksi :

(1) Sifilis Primer:

Chancre: Lesi terbuka tunggal yang muncul di tempat masuknya infeksi. Chancre biasanya tidak menimbulkan rasa sakit dan dapat ditemukan di alat kelamin, mulut, atau daerah lainnya. Chancre ini muncul sekitar 3 minggu setelah infeksi.

(2) Sifilis Sekunder:

Ruam: Muncul dalam bentuk ruam kemerahan pada telapak tangan dan kaki, serta pada bagian tubuh lainnya. Ruam ini biasanya tidak gatal dan tidak terasa sakit.

Lesi Mucocutaneous: Lesi kemerahan pada selaput lendir mulut, vagina, atau anus.

Demam, kelelahan, dan penurunan berat badan.

Pembesaran kelenjar getah bening.

(3) Sifilis Laten:

Pada tahap ini, tidak ada gejala yang nyata. Bakteri tetap ada dalam tubuh, tetapi tidak menunjukkan gejala yang jelas. Tahap laten dapat berlangsung selama bertahun-tahun.

(4) Sifilis Tersier:

- Gejala neurosifilis: Gangguan neurologis seperti kelemahan otot, kesulitan koordinasi, gangguan penglihatan, dan perubahan perilaku.

- Sifilis kardiovaskular: Kerusakan pada jantung dan pembuluh darah yang dapat menyebabkan masalah seperti aneurisma aorta atau penyakit katup jantung.

- Sifilis gummatous: Terbentuknya lesi lunak berdaging (gumma) pada kulit, tulang, atau organ dalam lainnya.


Diagnosis dan Pengobatan :

Diagnosis :

(1) Tes Antibodi Treponemal: Tes ini mendeteksi keberadaan antibodi yang dihasilkan oleh tubuh sebagai respons terhadap infeksi Treponema pallidum. Contoh tes antibodi treponemal termasuk tes Fluorescent Treponemal Antibody Absorption (FTA-ABS), Enzyme Immunoassay (EIA), dan Treponema pallidum Particle Agglutination (TP-PA).

(2) Tes Non-Treponemal: Tes ini mengukur antibodi non-treponemal yang dihasilkan oleh tubuh sebagai respons terhadap infeksi sifilis. Contoh tes non-treponemal termasuk tes Venereal Disease Research Laboratory (VDRL) dan Rapid Plasma Reagin (RPR). Tes ini umumnya digunakan untuk skrining awal dan diikuti dengan tes konfirmasi lebih lanjut.

(3) Tes PCR (Polymerase Chain Reaction): Tes PCR dapat mendeteksi DNA Treponema pallidum dalam sampel klinis, seperti cairan lesi atau darah. Metode ini digunakan untuk diagnosis dini dan juga untuk membedakan sifilis aktif dari sifilis laten.

Pengobatan :

(1) Sifilis Primer dan Sekunder: Pengobatan umumnya dilakukan dengan suntikan penisilin G benzatin secara intramuskular. Jumlah dan durasi pengobatan akan bergantung pada tahap dan keparahan penyakit.

(2) Sifilis Tersier dan Neurosifilis: Pengobatan sifilis tersier dan neurosifilis sering melibatkan penggunaan antibiotik yang lebih intensif, seperti penisilin intravena atau penisilin yang tinggi dosis. Pengobatan ini harus diawasi dan dikelola oleh profesional medis.

(3) Sifilis Kongenital: Sifilis kongenital pada bayi biasanya diobati dengan penisilin intravena, tergantung pada usia dan berat badan bayi.


Pencegahan :

(1) Praktik Seks Aman:

Gunakan kondom: Menggunakan kondom secara konsisten dan dengan benar saat berhubungan seks dapat mengurangi risiko penularan sifilis.

Batasi jumlah pasangan seksual: Mengurangi jumlah pasangan seksual dapat membantu mengurangi risiko terpapar dengan sifilis.

Hindari berhubungan seks dengan orang yang memiliki lesi terbuka atau tanda-tanda infeksi lainnya.

(2) Tes Rutin:

Melakukan tes rutin untuk sifilis dan penyakit menular seksual lainnya jika berisiko tinggi atau berubah pasangan seksual secara teratur.

(3) Pemeriksaan Ibu Hamil:

Ibu hamil harus menjalani pemeriksaan sifilis selama kehamilan. Jika terinfeksi, pengobatan yang tepat harus dilakukan untuk mencegah penularan kepada bayi.

(4) Edukasi:

Mengetahui tanda dan gejala sifilis serta risiko faktor penularannya dapat membantu dalam pengenalan dini dan pencarian pengobatan yang tepat.

(5) Vaksinasi:

Saat ini belum ada vaksin yang tersedia untuk mencegah infeksi sifilis. Namun, vaksinasi untuk penyakit menular seksual seperti hepatitis B dan Human papillomavirus (HPV) dapat membantu mengurangi risiko penyakit lain yang dapat menyertai infeksi sifilis.


Demikian sobat pengenalan kita tentang bakteri Treponema pallidum, untuk info lengkapnya bisa merujuk ke sini ya sobat : https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/1991/sifilis

Posting Komentar untuk "Yuk kenalan dengan Bakteri Treponema pallidum"