Yuk Kenalan dengan Bakteri Helicobacter pylori

Nah kali ini sobat pasti tidak familiar dengan nama Helicobacter pylori atau yang disingkat H.pylori, betul kan..? tapi penyakitnya pasti sudah familiar banget, saking familiarnya eh... ternyata ada di dalam tubuh kita juga itu penyakit.. YUPSS.. nama penyakitnya adalah...ASAM LAMBUNG !!! ya ternyata salah satu penyebabnya bakteri ini sobat, yuk kita kenalan dengan bakteri penyebab asam lambung ini..

Yuk Kenalan dengan Bakteri Helicobacter pylori


Helicobacter pylori adalah bakteri gram-negatif yang hidup di dalam lapisan mukosa lambung manusia. Bakteri ini diidentifikasi pada tahun 1982 oleh dua ilmuwan, Barry Marshall dan Robin Warren, yang kemudian dianugerahi Hadiah Nobel dalam Fisiologi atau Kedokteran pada tahun 2005 atas penemuan mereka.

Nama Ilmiah

Helicobacter pylori

Habitat

- Habitat alami dari Helicobacter pylori adalah saluran pencernaan manusia.
- Bakteri ini hidup di dalam lapisan mukosa lambung, terutama di antara sel-sel permukaan lambung dan lapisan lendir yang melapisi dinding lambung.
- Helicobacter pylori mengadaptasi diri dengan baik untuk bertahan di lingkungan asam dalam lambung yang biasanya tidak ramah bagi banyak mikroorganisme. Ini memungkinkannya untuk bertahan hidup dan berkembang biak di lingkungan asam ini

Klasifikasi 

- Domain: Bacteria (Bakteri)
- Filum: Proteobacteria
- Kelas: Epsilonproteobacteria
- Ordo: Campylobacterales
- Famili: Helicobacteraceae
- Genus: Helicobacter
- Spesies: pylori

Morfologi

Helicobacter pylori memiliki morfologi yang khas untuk bakteri spiral atau heliks. Berikut adalah beberapa ciri morfologi utama dari Helicobacter pylori:

(1) Bentuk: Bakteri ini memiliki bentuk spiral atau spiral kendor yang memungkinkannya untuk bergerak melalui lingkungan lendir dalam lambung.

(2) Ukuran: Ukuran Helicobacter pylori relatif kecil, dengan panjang sekitar 2-4 mikrometer dan lebar sekitar 0,5 mikrometer.

(3) Flagela: Bakteri ini memiliki banyak flagela yang terletak di bagian depan sel, yang memungkinkannya untuk bergerak dan berpindah di antara sel-sel mukosa lambung.

(4) Kapsul: Helicobacter pylori memiliki kemampuan untuk membentuk kapsul, lapisan yang melapisi permukaan sel bakteri, yang membantu dalam perlindungan dan melekat pada permukaan lambung.

(5) Membran luar: Helicobacter pylori memiliki membran luar yang mengandung lipopolisakarida (LPS), yang merupakan komponen penting dalam interaksi dengan sistem kekebalan tubuh inang.

Siklus Hidup

Helicobacter pylori memiliki siklus hidup yang terkait dengan kolonisasi dan persistensi dalam saluran pencernaan manusia. Berikut adalah gambaran umum siklus hidup Helicobacter pylori:

(1) Kolonisasi: Helicobacter pylori menginfeksi saluran pencernaan manusia, terutama lambung. Bakteri ini ditularkan melalui kontak langsung dengan saliva, muntahan, atau tinja individu yang terinfeksi. Setelah masuk ke lambung, H. pylori bergerak melalui lapisan lendir dan melekat pada permukaan epitel lambung.

(2) Pertumbuhan dan Reproduksi: Setelah melekat pada permukaan lambung, H. pylori mulai tumbuh dan berkembang biak. Bakteri ini memiliki kemampuan untuk berkembang biak di lingkungan asam lambung yang biasanya tidak ramah bagi banyak mikroorganisme. Selama pertumbuhan, H. pylori menghasilkan enzim urease yang membantu dalam melindungi diri dan menetralkan lingkungan asam di sekitarnya.

(3) Perlindungan dan Adaptasi: H. pylori memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan asam lambung dan melindungi diri dari serangan sistem kekebalan tubuh inang. Bakteri ini dapat mengubah komposisi permukaan selnya dan menghasilkan faktor virulensi seperti adhesin untuk melekat pada jaringan lambung dan mencegah serangan sistem kekebalan tubuh.

(4) Persistensi: Salah satu fitur penting dari siklus hidup H. pylori adalah kemampuannya untuk bertahan hidup dan bertahan dalam saluran pencernaan selama bertahun-tahun atau bahkan seumur hidup individu yang terinfeksi. Bakteri ini mampu menghindari respons sistem kekebalan tubuh dan mengelabui pertahanan inang, yang memungkinkan mereka untuk tetap bersarang dalam lambung dan memicu kondisi seperti gastritis atau penyakit ulkus peptikum.

Gejala Infeksi

(1) Dispepsia: Gejala dispepsia, seperti rasa tidak nyaman, nyeri atau kembung pada perut bagian atas, seringkali terkait dengan infeksi H. pylori. Gejala ini mirip dengan gejala yang terkait dengan gangguan pencernaan lainnya.

(2) Nyeri ulu hati: Nyeri atau sensasi terbakar di daerah ulu hati atau dada, yang sering kali memburuk setelah makan, dapat terjadi akibat infeksi H. pylori. Ini bisa menjadi gejala dari gastritis atau refluks asam yang terkait dengan infeksi.

(3) Mual dan muntah: Beberapa individu dengan infeksi H. pylori dapat mengalami mual dan muntah, terutama setelah makan.

(4) Perubahan nafsu makan: Infeksi H. pylori dapat mempengaruhi nafsu makan seseorang. Beberapa orang mungkin merasa kehilangan nafsu makan, sementara yang lain dapat merasa kenyang dengan cepat saat makan.

(5) Anemia: Pada beberapa kasus, infeksi H. pylori yang parah dapat menyebabkan anemia defisiensi zat besi, karena bakteri ini dapat mengganggu penyerapan zat besi dari makanan.

Diagnosis / Cara pemeriksaan

(1) Tes Urea Breath (Tes Nafas Urea): Tes ini melibatkan pemberian pasien dengan kapsul atau larutan yang mengandung urea yang diberi label isotop seperti karbon-13 atau nitrogen-15. Jika H. pylori hadir dalam lambung, bakteri ini akan menguraikan urea menjadi karbon dioksida yang terdeteksi dalam sampel napas pasien.

(2) Tes Serologi: Tes darah dapat dilakukan untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap H. pylori dalam tubuh. Namun, tes serologi tidak dapat membedakan antara infeksi saat ini dan infeksi masa lalu, karena antibodi terhadap bakteri ini dapat tetap ada dalam darah bahkan setelah infeksi sembuh.

(3) Tes Tinja: Tes tinja digunakan untuk mendeteksi adanya antigen H. pylori dalam tinja pasien. Metode ini efektif dalam mendiagnosis infeksi saat ini dan dapat membantu memonitor keberhasilan terapi setelah pengobatan.

(4) Endoskopi dan Biopsi: Pemeriksaan endoskopi melibatkan penggunaan tabung lentur yang dilengkapi dengan kamera untuk melihat ke dalam lambung dan usus dua belas jari. Selama prosedur ini, sampel jaringan (biopsi) dapat diambil dari lapisan lambung untuk dianalisis secara mikroskopis atau melalui tes lainnya, seperti tes urease atau tes pewarnaan spesifik H. pylori.

(5) Tes Rapid Urease (CLO Test): Tes ini melibatkan pengambilan sampel jaringan lambung selama endoskopi dan menempatkannya dalam larutan yang mengandung urea dan indikator pH. Jika H. pylori hadir, bakteri akan menguraikan urea dan mengubah pH larutan, menghasilkan perubahan warna yang dapat terlihat.

Ini semua bisa di cek di laboratorium klinik ya sob, ane kasih link laboratorum klinik untuk cek ini ya sob : https://prodia.co.id/https://www.labparahita.com/https://presisilaboratorium.com/

Pengobatan

Pengobatan infeksi Helicobacter pylori dilakukan dengan menggunakan terapi kombinasi antibiotik yang bertujuan untuk memberantas bakteri tersebut. Regimen pengobatan biasanya terdiri dari kombinasi dari dua atau lebih antibiotik yang efektif melawan H. pylori, bersama dengan penghambat pompa proton (PPI) yang mengurangi produksi asam lambung. Durasi dan dosis pengobatan dapat bervariasi tergantung pada faktor-faktor seperti tingkat keparahan infeksi dan resistensi antibiotik lokal.

Berikut adalah beberapa komponen pengobatan yang sering digunakan untuk infeksi Helicobacter pylori:

(1) Antibiotik: Antibiotik yang sering digunakan dalam pengobatan H. pylori termasuk clarithromycin, amoxicillin, metronidazole, dan levofloxacin. Biasanya, dua jenis antibiotik digunakan secara bersamaan untuk mengurangi risiko resistensi.

(2) Penghambat Pompa Proton (PPI): Obat golongan PPI, seperti omeprazole, lansoprazole, atau esomeprazole, digunakan untuk mengurangi produksi asam lambung. Penghambatan asam lambung membantu mengoptimalkan efektivitas antibiotik dan mempercepat penyembuhan lapisan lambung yang terkena.

(3) Bismut Subsalisilat: Dalam beberapa regimen pengobatan, bismut subsalisilat dapat digunakan sebagai bagian dari terapi. Bismut memiliki efek antimikroba dan dapat membantu melindungi lapisan lambung.

Pencegahan

(1) Kebersihan dan Higienitas: Cuci tangan dengan sabun dan air bersih secara teratur, terutama sebelum makan dan setelah menggunakan toilet. Hindari kontak langsung dengan tinja, muntahan, atau saliva orang yang terinfeksi.

(2) Keamanan Makanan: Pastikan makanan yang dikonsumsi sudah matang sempurna dan higienis. Hindari makan makanan yang tidak dimasak dengan baik atau makan makanan mentah yang berisiko terkontaminasi.

(3) Hindari Pemakaian Bersama Benda Pribadi: Hindari berbagi peralatan makan, gelas, atau barang-barang pribadi yang bisa menjadi sumber penularan bakteri.

(4) Perhatikan Kebersihan Lingkungan: Jaga kebersihan dan sanitasi lingkungan sekitar, terutama di tempat-tempat umum seperti toilet umum atau tempat makan.

(5) Minum Air yang Aman: Pastikan air yang dikonsumsi bersih dan aman. Jika air minum tidak dapat dijamin kebersihannya, lebih baik menggunakan air yang sudah dimasak atau air kemasan.

(6) Vaksinasi: Saat ini belum ada vaksin yang tersedia untuk mencegah infeksi H. pylori. Namun, penelitian terus dilakukan untuk mengembangkan vaksin yang efektif.

(7) Kurangi Risiko Penyakit Tukak Lambung: Infeksi H. pylori dapat berkontribusi pada perkembangan tukak lambung. Menghindari faktor risiko seperti konsumsi alkohol berlebihan, merokok, dan penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid yang berlebihan dapat membantu mengurangi risiko tukak lambung.


Cukup lengkap ya sobat ulasannya, kalau suka dengan artikel ini silahkan di share ya sobat, infokan ke teman-teman semua supaya kita semua menjadi manusia yang selalu sehat....

Posting Komentar untuk "Yuk Kenalan dengan Bakteri Helicobacter pylori"